Rabu, 08 Februari 2012

ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI


SUDAH SEBERAPA PEDULIKAH ANDA DENGAN ILMU PENGETAHUAN?????

Berikut tulisan yang saya reposting dari dosen saya Bapak Khoirul Asfiya' yang ditulis dihttp://fai-unisma-malang.blogspot.com/2011/08/islam-dan-ilmu-pengetahuan-sebuah.html
“Render unto Caesar that of the Caesar’s and unto God that of the God’s” demikian teriak filosof Barat di dalam keheningan dan kegelapan abad pertengahan yang secara umum didominasi oleh satu kekuatan yang memuncak, yakni dominasi Gereja. Ucapan ini di kemudian hari menjadi ruh dan semangat bagi satu ajaran yang sekarang kita kenal dengan istilah sekularism. Kalimat yang sesungguhnya merupakan ucapan Nabi Isa itu menandai berakhirnya hubungan baik antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan gereja.

Pada abad pertengahan, yakni satu kurun sejarah yang berawal pada abad 6 M sampai pada abad 15 M, Barat berada dalam keadaan miskin dari sisi peradaban dan kebudayaan. Semua itu adalah akibat kontrol dari gereja yang berlebihan terhadap segala bentuk kehidupan masyarakat eropa. Bahkan, gereja mengklaim bahwa satu-satunya sumber ilmu pengetahuan yang benar adalah apa yang telah menjadi keputusan gereja. Sehingga jika muncul suatu ilmu pengetahuan yang didesain dan dikembangkan oleh fihak-fihak diluar gereja dan tidak mendapatkan pengakuan/pengukuhan dari gereja maka ilmu tersebut harus dimusnahkan, dan dianggap sebagai bagian dari black magic atau bisikan setan yang membahayakan keimanan kaum nasrani. Dengan kata lain bahwa signifikansi ilmu pengetahuan pada masa itu tidak tampak secara umum digemari oleh peradaban Eropa.

Sejarah mencatat bahwa Copernicus pernah dihukum dan dipenjara oleh gereja akibat memperkenalkan teori pergerakan planet-planet atau benda angkasa. Salah satu dari teori yang dikembangkan oleh Copernicus adalah bahwa planet bumi itu bergerak dan berputar pada porosnya di ketika mengelilingi matahari. Sedangkan kebenaran yang diakui gereja adalah bumi itu menjadi pusat dan poros bagi tata surya, sementara benda-benda planet lainnya termasuk matahari berputar mengelilingi bumi, sebagaimana halnya teori yang digagas oleh Ptolomeus. Ketika Herdano bruno membicarakan teori tersebut, ia lalu dipenjarakan dan akibat keyakinan ilmiahnya, Bruno dihukum bakar pada tahun 1600 M.

Selang beberapa waktu setelah Bruno menjalani kematiannya, muncul Galileo dengan pengetahuan yang lebih baik dan sempurna. Lewat kecanggihan tekhnologi yang dikuasainya, Galileo menciptakan teleskop yang mampu merekam segala gerak-gerik pergeseran dan pergerakan benda-benda langit. Sebagaimana halnya Copernicus, beliau meyakini bahwa bumi berotasi terhadap matahari dan bukanlah berlaku sebaliknya. Akibat keyakinan ini Galileo diancam hukuman bakar. Akan tetapi, patut disayangkan pada akhirnya ia menyerah dan mencabut pendapatnya tentang rotasi bumi tersebut (al Bahansawi :1996:20 )

Perkembangan peradaban Eropa atau Barat baru dimulai setelah berkenalan dengan ilmu pengetahuan Timur (baca: Islam) setelah terjadinya Perang Salib pada abad 15 M. Imbas dari peperangan itu adalah dikembangkannya suatu studi yang intens di Barat untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia islam terutama yang berkaitan dengan aspek sosiologi, hukum dan agama masyarakat Islam. Sesungguhnya mereka merasa kagum dan terperangah atas kegemilangan prestasi islam dalam dunia ilmu pengetahuan. Lewat kombinasi warisan Islam yang menakjubkan dengan dipadu pengaisan kembali hasil peradaban dan kemajuan bangsa Yunani kuno lewat Hellenisme, Eropa mengalami zaman baru, zaman Renessance. Banyak cendekiawan Barat yang menafikan peran Islam dalam membangun Eropa baru dan hanya mengakui peran peradaban dan kebudayaan Yunani yang telah diaktualisasikan oleh filsafat kristiani sebagai satu hal yang inheren dalam ajaran nasrani. Akan tetapi pendapat yang menyalahi sejarah ini telah dikoreksi oleh orang Eropa sendiri, yakni Roger Garaudy dalam buku beliau yang monumental Promesses de L’Islam.
Renaissance -yang menjadi semangat baru bagi Eropa untuk bangkit dari masa kegelapannya- adalah akibat perkenalan Barat dengan Islam dalam perang salib. Sesungguhnya peperangan tidaklah melulu menyisakan kepedihan berupa korban harta dan nyawa. Akan tetapi ada sisi lain yang justru bersifat positif bagi dua peradaban yang saling bertemu itu. Sisi positif itu adalah adanya pertukaran budaya dan nilai-nilai humanisme baru. Di samping kontak secara fisik, peperangan juga berakibat adanya pertukaran dan kontak budaya antar dua kelompok yang bertikai. Ali Syari’ati menganggap bahwa suatu negara atau sejarah masyarakat manapun di dunia ini tidak akan berkembang dan berubah, kecuali masyarakat wilayah tersebut mengadakan kontak dengan dunia luar. Beliau merumuskan sebuah teori bahwa tiada peradaban yang lahir, atau tiada suku primitif berkembang menjadi masyarakat yang berbudaya dan berkeadaban yang tinggi tanpa adanya kontak budaya (Hijrah) dari tanah leluhurnya. semua peradaban terbaru seperti di amerika dan eropa, maupun peradaban paling tua didunia ini, yakni peradaban Sumeria tumbuh dari hijrah atau kontak budaya antara suatu masyarakat dengan masyarakat yang lain. (Shari’ati:1982:46-47)

B. Konteks Permasalahan

Tulisan ini bertujuan untuk membandingkan bahwa sejarah islam tidak mengenyam situasi dan pengalaman sebagaimana yang terjadi di kalangan masyarakat Barat. Islam dan hubungannya dengan ilmu pengetahuan justru memberikan ruang gerak yang cukup lebar dan tidak mengakui adanya satu institusi manapun dalam islam yang mengontrol dan menentukan kearah mana ilmu pengetahuan bergerak dan berkembang. Justru nilai normatif islam dan sejarah umat yang dilaluinya menunjukkan hal yang berbanding sebaliknya dengan yang dialami oleh masyarakat Eropa pada abad pertengahan. Berikut ini akan dibahas beberapa fakta bahwa islam tidak menghambat proses bagi berkembangnya ilmu pengetahuan, serta tidak ditinggalkan oleh kebenaran realitas zaman dan senantiasa memiliki kesesuaian dengan kebenaran ilmiah yang pernah dikembangkan oleh para sarjana baik di dunia timur maupun didunia barat. Mudah-mudahan tulisan ini tidak sekedar dianggap sebagai upaya apologetik belaka, karena melihat kondisi umat islam sekarang ini yang secara ekonomi, sosial, dan penguasaan ilmu teknologinya masih berada jauh di belakang masyarakat Barat. Justru diharapkan akan mampu membangkitkan lagi semangat untuk mengejar ketertinggalan itu dan meraih kembali sejarah gemilang pada masa-masa yang lalu.

C. Pembahasan

Ilmu-ilmu Islam dalam Sketsa Historis
Apa yang dialami Barat dalam abad pertengahan amat berbeda jauh dengan kondisi yang terjadi di negeri muslim pada saat itu. Justru di dunia islam tengah bermunculan figur-figur besar yang menjadi pengembang terbesar dasar-dasar ilmu pengetahuan modern. Sains-sains yang bersifat mekanik, tekhnik, sosial, ekonomi, matematik, kesehatan dan lain-lainya mencapai puncak kematangannya ketika berada ditangan ilmuwan-ilmuwan muslim. Bahkan, dibidang sastra, kebudayaan Arab baik pra islam maupun sesudahnya banyak menghasilkan karya-karya yang bermutu. Mulai karya Umru’ul Qais dan Nabighah az Zibyani sampai pada masa Jalaluddin ar Rumi dan al Hafizd. Pada masa yang paling dini karya sastra itu biasa dikenal dengan istilah rajaz, hazaj, maqbudh, dan mabsuth. Pada waktu-waktu tertentu karya sastra itu dipertandingkan dan bagi yang berhasil menang karyanya digantungkan di dinding ka’bah, sehingga ia disebut dengan al mu’allaqah. Di samping itu ia juga mendapat sebutan Mujamharah, Muntaqiyah, Muzdahhabah, dan Mulahhamah.

Selain sastra masyarakat muslim juga meletakkan dasar ilmu pengetahuan bagi ilmu sejarah, mulai dari ibn ishaq, al Waqidi, ibn Hisyam (218 H) sampai munculnya Bapak sejarah muslim ibn Khaldun (808 H).dibidang filsafat muncul ibn Sina/avvicena (260 H) al Frabi/al Farabius (872 H) ibn Bajjah/avempace (523 H) ibn Thufail/abu Bacer (851 H) ibn Rusyd/averroes (595 H) al maimun /al Maimonades (601 H). Matematika menjadi dasar ilmu mekanik berkembang ditangan ilmuwan muslim seperti al khawarizm (226 H) lewat karya gemilangnya “al Jabar”. Sesudah al khawarizm muncul al Haitsami yang menghitung hubungan antara suatu lingkaran dan diameternya ( angka π ) Kemudian Ummar Khayyam menciptakan teori tentang angka-angka “irrasional” serta menulis buku yang sistematis tentang mu’addalah (equation). Disusul kemudian ibn Tsabit bin Qurrah pada abad IX menciptakan hitungan integral dan menghubungkan antara geometri dan aljabar. at Thousi, al Biruni, abul Wafa mengerjakan teori tentang sinus dan melahirkan “secante” beberapa abad sebelum Copernicus memulai usaha tersebut, serta menerjemahkan karya-karya Diophantos ahli matematika Yunani.

Dibidang astronomi muncul al Battani (317 H) al Biruni (440 H) Nashiruddin at Thousi (672 H) dan al Farghani/al Faragamus yang menguraikan sejumlah kekeliruan Ptolemous tentang sebab-sebab terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan dan tidak terbitnya matahari di kutub. Sementara al Battani menghitung enklinasi ekleptik = 23ْ 35’ (sekarang ukuran yang disepakati = 23ْ 27’) dan Precessi Ekinax (waktu siang yang sama panjangnya dengan waktu malam) = 54ْ 5’’ tiap tahun. Para ahli astronomi zaman kekhalifahan al ma’mun menyangka bahwa panjang garis meridian bumi = 111.814 meter (sekarang angka yang disepakati oleh para ahli adalah 110.938 meter).
Di bidang kedokteran muncul ibn Zakaria ar Razi (320 H), Ia menulis karya dibidang kedokteran lebih dari seratus buah judul buku. Karya-karyanya telah diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa Eropa dan dicetak ulang beberapa kali. Ia menulis ensiklopedi tentang penyakit demam, campak dan cacar. Selain itu ia menulis juga suatu buku diagnosis tentang batu-batu kecil pada ginjal. Selain ar Razi muncul pula ibn Sina (428 H) abu Qasim az Zahrawi / abul Casis (500 H) ahli bedah dan mencipta peralatan medis di bidang tersebut. Masih banyak lagi tokoh-tokoh terkemuka yang muncul di dunia muslim pada waktu sebelum kemunduran ilmu pengetahuan islam pasca peristiwa Reconquista di Spanyol .

Hal ini membuktikan bahwa masyarakat/pemerintah muslim dalam sejarahnya yang panjang memiliki hubungan yang mesra dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Kemajuan mengagumkan yang dicapai oleh generasi masa lalu itu tak lepas dari kecintaan kkhalifah /pemimpin ummat pada masa itu beserta adanya dukungan normatif dari alqur’an/al hadis. Dua sumber ajaran islam ini tidak pernah mengekang bagi berkembangnya ilmu pengetahuan secara meluas. Bahkan ajaran-ajaran yang dikandungnya justru menggairahkan ummatnya agar banyak melakukan riset-riset/peneyelidikan ilmiah atas fenomena alam yang dalam bahasa al Qur’an biasa disebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah (baca: ayat-ayat Kauniyah). Kenyataan tersebut tentunya amat membanggakan bagi ummat islam masa kini, sekaligus memilukan jika melihat situasi masa depan yang suram. Kini tongkat peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan telah berpindah ke Barat dengan segala konskuensi yang ditimbulkannya. Pada akhirnya Peradaban Barat meninggalkan dunia islam tetap dalam keadaan tenggelam dalam pertikaian intern, jumud, taqlid, miskin -baik intelektual maupun ekonominya- serta terbelakang. Secara umum kini dunia islam menjadi konsumen terbesar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang dikembangkan di Barat. Dunia islam benar-benar terdesak dalam bidang penguasaan tekhnologi. Betapapun sekarang sudah ada tanda-tanda menuju perubahan yang agak lebih baik.

Islam di tengah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Modern.

Dalam sejarahnya yang panjang, jatuh bangunnya islam tidak terlepas dari tantangan-tantangan yang dihadapinya. Fazlurrahman (1984:311) mencoba untuk mendiagnosa tantangan-tantangan itu dalam tiga periode, yakni:
•Periode Kemunculan: Pada periode ini tantangan terbesar bagi eksistensi islam adalah kekuatan senjata dan pemikiran yang digerakkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.
•Periode Kematangan: Pada periode ini munculnya kekuatan pemikiran baru di benua Eropa dengan apa yang dikenal dengan istilah Renaissance yang berbasis pada warisan intelektual Hellenisme Yunani.
•Periode Kehancuran: Pada periode ini tantangan yang dihadapi oleh islam adalah dikembangkannya upaya yang sistematis di kalangan bangsa-bangsa Barat di dalam mengembangkan dan menyebarluaskan agama nasrani lewat aksi-aksi imperialisme yang secara umum menggejala pada abad-abad setelah renaissance bergulir. Di samping itu secara internal ummat islam digerogoti oleh pemikiran Barat yang pada waktu itu dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang metodologis dan ilmiah.

Peta tantangan zaman yang dihadapi oleh islam, sebagaimana yang digambarkan oleh fazlurrahman di atas, membuktikan bahwa eksistensi islam dalam rangka pencapaian peradaban yang lebih baik, menghadapi kendala yang serius. Dan pada gilirannya, hal ini menjadi sebuah realita yang tak dapat dihindari bahwa ummat islam sekarang lebih senang berapologi ketika menatap kemajuan Barat yang tiada henti-hentinya melakukan riset-riset ilmiah guna memperkembangkan jenis-jenis ilmu pengetahuan baru. Sementara masyarakat muslim hanya bisa berbangga diri dengan romantisisme masa lalu. Jelas hal ini adalah cermin sifat rendah diri dan ketidak berdayaan dihadapan peradaban ilmu pengetahuan raksasa Barat. Orang tentu bertanya-tanya mengapa kita jadi tertinggal, menjadi penonton yang baik dan penikmat abadi dari kemajuan tekhnologi masa kini. Seolah-olah sejarah berbalik 180 ْ derajat.

Ada banyak tesis yang dimunculkan oleh ilmuwan didalam menyikapi kegagalan umat islam mengejar dan menggenggam kembali obor ilmu pengetahuan yang telah lepas itu. Sekalipun tidak dalam posisi menjawab pertanyaan tersebut, Ali Syari’ati (1982: 48-54) menyebutkan atau mendiagnosa adanya tiga kelompok pendapat yang bisa menjelaskan faktor-faktor yang mendorong terjadinya perubahan-perubahan besar dan perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam masyaraakat, adapun ketiga kelompok tersebut adalah :

-Aliran Anarkisme Ilmiah, yang berpendapat bahwa perubahan apapun yang terjadi didalam mayarkat sesungguhnya lebih merupakan suatu kejadian yang serba kebetulan. Perubahan itu tidak didasarkan pada alasan atau faktor tertentu, akan tetapi semata-mata faktor kebetulan belaka. Dengan demikian kejatuhan atau kegagalan ummat islam sekarang ini hanyalah bersifat kebetulan belaka.
-Aliran Materialisme / Determinisme Sejarah, Maksudnya adalah sejarah dan masyarakat sejak semula sampai sekarang bagaikan sebatang pohon yang tidak punya kemauan sendiri untuk berkembang, bercabang, tumbuh, besar dan kemudian mati. Kejayaan dan kejatuhan islam adalah mengalir begitu saja berpantha rei mengikuti kehendak sejarah dan tidak disebabkan oleh faktor yang bisa dilihat.
-Aliran yang berpendapat bahwa perubahan-perubahan itu berada ditangan orang-orang besar, atau jika mengikuti pendapat Nietzsche ditangan Orang-orang pilihan, sedang menurut Plato ditangan para Aristrokat dan Kaum Ningrat, atau jika menurut Carlyle & Emerson ditangan tokoh-tokoh Besar Sejarah, sementara menurut Alexis Carel ada ditangan orang-orang yang bangsawan (berdarah murni). Kesimpulannya bahwa nasib masyarakat dan ummat tenggelam dalam tangan orang-orang besar yang bertindak sebagai pemimpin mereka. Kehancuran dan kejayaan sejarah bukan ditangan rakyat akan tetapi atas pengaruh orang-orang besar.

Apa yang diungkap oleh Ali Syari’ati di atas mungkin bisa menjelaskan dari sisi sosiologis mengapa terjadi suatu perubahan yang dahsyat dalam masyarakat islam. Cendekiawan Pakistan, Abul ‘Ala al Maududi justru melilhat secara normatif adanya perubahan yang terjadi tersebut, Beliau berpendapat (1984:19-20) jika al qur’an dijadikan pegangan maka ia bisa membimbing ummat dan menjadikan mereka sebagai mu’min sejati dan pemimpin dunia. Akan tetapi sekarang kegunaan al Qur’an tak lebih dari sekedar sebagai ruqyah (Jampi-jampi) dan kadang hanya disimpan dirumah untuk mengusir jin-jin dan hantu. Mereka menuliskan ayat-ayat al qur’an pada lembaran-lembaran kertas lalu menggantungkannya pada leher mereka dan mencelupkannya kedalam air lantas meminumnya. Dan andaikata ayat-ayat al qur’an dibaca, ummat islam hampir-hampir tidak mengetahui makna yang dikandungnya. Namun mereka berharap untuk dapat memperoleh sesuatu berkah dari padanya. Betapa irosnisnya kondisi masyarkat muslim dewasa ini.

Apa yang disinyalir oleh al Maududi di atas merupakan sebuah fenomena umum yang terjadi dikalangan ummat islam. Bagaikan sebuah wabah ia menjalar kemana-mana memasuki relung-relung ketidaksadaran ummat islam. Sungguh ia amat disayangkan. Sekalipun al Maududi berpendapat bahwa betapa pentingnya al qur’an sebagai faktor perubahan yang dialami ummat islam, namun pemikiran beliau itu tidak begitu mendapat respon positif dari masyarakat muslim.
Berbeda halnya dengan para pemikir Barat, mereka memiliki pandangan yang berbeda di dalam mendiagnosa kegagalan umat islam di dalam mengejar ketertinggalannya dengan peradaban Barat. Ernest Renan dan Sir William Muir (Rahman,1984:315) mensinyalir bahwa kemandegan ilmu pengetahuan Islam dan keterpurukan penguasaan tekhnologi –terutama menjelang akhir zaman pertengahan- lebih disebabkan adanya sifat rendah diri yang memang inheren dalam perdaban islam. Islam dalam pandangan sebagian pemikir barat dituduh telah bersumber dari inferioritas islam sebagai agama, dengan kata lain islam dianggap sebagai fenomena “Badui” yang asing terhadap akal dan toleransi. Sejarah islam telah menyajikan suatu bukti yang cukup valid bahwa pada zaman pertengahan para Theolog muslim bersitegang dengan begitu sengitnya dengan pemikiran rasionalis yang dikembangkan oleh filosof-filosof muslim. Fenomena yang terjadi ini diidentikkan sebagai pertentangan atau perang antara “Akal” dan “Agama”. Sekaligus membuktikan bahwa islam dalam sejarahnya pernah mengalami tarik menarik antara peran akal dan wahyu.

H.A.R Gibb (1995:109) mengakui bahwa terdapat konflik yang sangat tajam antara gagasan-gagasan abad pertengahan dan gagasan-gagasan modern tentang hakikat ilmu pengetahuan. Pandangan islam lama mengenai ilmu pengetahuan tidak menjangkau “hal-hal yang belum diketahui” melainkan merupakan proses pengumpulan hal-hal “yang sudah diketahui” secara mekanik. Hal-hal yang sudah diketahui itu tidak dianggap berubah dan berkembang melainkan “tetap” dan “abadi”. Kondisi-kondisi seperti inilah yang secara langsung ataupun tidak langsung mengantarkan ummat islam pada kemandegan berfikir dan berkarya dalam segala cabang ilmu pengetahuan.

Sementara itu bagi para orientalis semacam Richard bell, dan C.C Torrey, al qur’an tak lebih merupakan kelanjutan dari kebudayaan yahudi – kristen dengan kata lain sumber historis utama dari ajaran al qur’an adalah agama kristen, serta Yudaisme adalah anteseden historis yang terpenting dari al qur’an. Sementara Mongomery Watt berpendapat bahwa ide-ide yahudi-kristen umumnya sudah ada dalam millieu arab terutama di makkah (Fazlurrahman,1983:216). Lebih sinis lagi Wansbrough dan John Burton beranggapan bahwa keseluruhan teks-teks ayat al qur’an diedit, dicek dan disebarluaskan oleh Muhammad sendiri (Fazlurrahman,1983:xv).

Apa yang dikemukakan oleh para orientalis di atas mendapatkan sanggahan dari Fazlurrahman (1984:32) yang menyatakan bahwa al qur’an adalah firman Allah dan Nabi Muhammad sadar betul dan yakin bahwa dirinya adalah penerima pesan Allah. Oleh karenanya dengan kesadaran Nabi itu, tertolaklah sebagian dari klaim-klaim historis yang beranggapan bahwa al qur’an terdiri dari tradisi Yudea-kristiani terutama kisah tentang ibrahim dan Nabi-nabi lainnya. Dengan demikian tidak benar klaim bahwa al qur’an hanyalah kelanjutan dan mengambil materi ajarannya dari dogma yahudi dan kristiani.

Kalau ummat islam mau menyadari, sesungguhnya al qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang tiada kering-keringnya untuk diulas, dianlisa dan ditafsirkan demi perkembangan sains-sains modern. Hanya saja kajian kearah itu nampaknya kurang intens, untuk tidak dikatakan tidak ada sama sekali. Ummat islam kini lebih suka untuk mengkomsumsi sains modern barat yang menurut tengara Fazlurrahman (1995:54) mewujud kedalam dua sikap, yakni:
1- (secara eklektif ) pengetahuan modern hanya dibatasi pada bidang tekhnologi praktis, bukan pada pemikiran murni, karena khawatir terjadi kerancuan pemahaman atas nilai-nilai islam dan sesungguhnya nilai-nilai tradisional telah memberikan jawaban yang memuaskan bagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sekitar masalah-masalah keagaman
2- Tanpa rasa takut dan harus memperoleh tidak hanya tekhnologi barat saja, akan tetapi juga intelektualismenya, karena tidak ada ilmu yang merugikan.

Pada penghujung abad 19 masehi beberapa cendekiawan muslim mulai menampakkan gagasan orsinilnya menyangkut perbaikan ummat dari segi penguasan iptek, baik yang bercirikan islamis maupun yang berbau kebarat-baratan. Mereka menyadari perlunya memberikan penguatan pada beberapa aspek islam sehingga islam tidak dikecam sebagai doktrin yang anti pada kemajuan. Muhammad Abduh sebagai salah seorang penggerak pertama aliran modernisme dalam islam, mengajukan beberapa program perbaikan dalam usaha ide-ide pembaharuan islam. Adapun program-program yang digagasnya adalah sebagai berikut :
(1) Pemurnian (Purifikasi) islam dari dari berbagai pengaruh ajaran dan pengamalan yang tidak
benar (bid’ah dan khurafat)
(2) Pembaharuan pendidikan tinggi islam
(3) Perumusan kembali ajaran islam sejalan dengan pemikiran modern
(4) Pembelaan islam terhadap pengaruh-pengaruh Eropa dan serangan-serangan kelompok kristen.

Sekalipun usaha dan ide-ide cemerlang Muhammad Abduh mendapatkan banyak pengikut dari berbagai negara islam lainnya, nampaknya apa yang menjadi tujuan idiil program itu tidak lebih dari kesan yang sifatnya utopis belaka. Mengingat bahwa kondisi riil masyarakat islam, belum sepenuhnya siap dengan ide-ide yang digam,barkan oleh Muhammad Abduh tersebut. Sehingga pada akhirnya ide itu hanyalah sebuah ide yang belum bisa membumi dan pada akhirnya hanya menjadi satu catatan sejarah belaka.

Seharusnya pengetahuan Barat tidak perlu kita curigai sebagai pengetahuan yang berbahaya bagi kelangsungan generasi muslim. Sebab pada titik awal perkembangannya sains-sains barat mengambil inspirasinya justru dari masyarakat muslim ketika mereka berada pada peradaban tertingginya pada masa-masa kekhalifahan Dinasti Abbasiyyah. Beberapa di antara pemikir barat memiliki kejujuran ilmiah yang sekilas dapat ditangkap adanya kesan kesejajaran ide dengan ajaran islam. Bukti pembenar terhadap pernyataan ini adalah seperti apa yang diungkap oleh Ali Syari’ati (1982:104) berikut ini :

“Albert Einstein dan Max Planck, dua pemikir raksasa ilmu fisika modern, telah menunjukkan bahwa tak seorangpun berhasil menemukan kebenaran jagat raya kecuali Ia dibangkitkan dengan rasa kekaguman dan takjub tentang jagat raya itu sendiri. Selanjutnya Einstein mengatakan bahwa diantara kedua prinsip dasar- yakni materi dan enersi- ketika hendak dicari kebenaran dari keduanya, ilmu fisika mereasa kesulitan untuk mengungkapnya. Kebenaran ini merupakan suatu entitas yang tidak diketahui yang kadangkala mewujud sebagai materi dan pada waktu yang lain mewujud sebagai enersi, ini adalah sesuatu yang tidak diketahui oleh ilmu fisika dan tetap tidak diketahui untuk selama-lamanya.’Inilah yang saya namakan sebagai Tuhan’ demikian kata Einstein”

Apa yang didengungkan oleh kedua ilmuwan kenamaan di atas sesungguhnya tersirat adanya pengakuan yang tulus bahwa kebenaran ilmu pengetahuan adalah terbatas. Dan sesungguhnya islam dogmatis telah memprediksi hal tersebut. Betapapun kadangkala doktrin islam seringkali dikacaukan oleh nada-nada sumbang yang menuduh bahwa nilai-nilai islam secara diametral bertentangan dengan peradaban dan ilmu pengetahuan (sains-sains ilmiah) agama memperbudak keduanya serta menghalangi kemajuan peradaban. Gagasan ini telah diterima disejumlah negara islam dan sebaliknya justru ditempat lain Ia menyebabkan tumbuhnya gerakan-gerakan intelektual, sosial dan politik yang besar (Syari’ati,1992:38)

Kesan umum yang diungkap oleh syari’ati ditangkap lain oleh H.A.R. Gibb (1983: 5) yang mengatakan bahwa pemelukan agama islam atau doktrin islam itu sendiri bukanlah sumber kemandegan ilmu pengetahuan. Bahkan sejarah menceritakan kepada kita dengan jelas bahwa perluasan islam disamping menciptakan beberapa ketegangan baru dalam bidang pergerakan agama itu sendiri, disisi lain Ia justru terlihat adanya pertumbuhan intelektual masyarakat muslim serta munculnya berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Dalam kesempatan yang berbeda Gibb (1995:145-146) menjelaskan alasan mengapa masyarakat islam begitu dinamis kaitannya dengan proses pemelukan agama islam itu sendiri. Gibb menjelaskan bahwa hukum (nilai-nilai) islam akan diterima oleh masyarakat islam dengan syarat penerimaan islam sebagai dasar ideologi. Karena masyarakat menerima islam sebagai agama mereka maka para anggota masyarakatnya secara prinsipil mengakui otoritas hukum (nilai) islam.

Oleh karena itu dengan semangat kembali kepada islam yang benar, maka masyarakat muslim diharapkan mampu meraih kembali kebesaran masa lalunya lewat kesadaran qur’anik yang kaya dengan konsep dasar ilmu pengetahuan itu. Kedepan terbentang dihadapan ummat islam, 2 macam bentuk ilmu pengetahuan yang menurut Fazlurrahman (1985:156) disebut dengan sains alam dan sains-sains sosial yang perlu diwarnai adanya kajian-kajian tingkat tinggi dengan nilai-nilai islam. Seperti metafisika islam hingga kini ilmu pengetahuan tentangnya –sekalipun memunculkan pemikir-pemikir cemerlang, orisinil dan berpengaruh- akan tetapi basis utama dari keseluruhan pandangan dunia mereka adalah pemikiran Yunani bukan al qur’an. Tujuan untuk mengislamkan beberapa lapangan ilmu pengetahuan itu tidak akan dicapai sepenuhnya kecuali bila kaum muslimin secara efektif dan sistematis mampu mempergunakan al qur’an sebagai tolok ukurnya. Kerja keras ini bukannya tanpa halangan. Fazlurrahman (1985:162) menjelaskan bahwa halangan pertama dan yang paling penting bagi usaha pembaharuan apapun adalah fenomena yang dia sebut sebagai Neo-revivalis dan Neo-fundamentalis. Betapapun demikian, apabila gagasan modernisasi ilmu-ilmu islam yang lama dan islamisasi ilmu-ilmu yang baru mau diciptakan, maka kedua tonggak orisinal islam (al qur’an dan al hadis) mesti ditegakkan supaya konformitas dan defonmitas islam historis bisa dinilai jelas olehnya.

Pada akhirnya ummat islam tidaklah perlu nervous dan berkecil hati jika ternyata sumber vital ajaran islam (al qu’an) dituding ketinggalan zaman karena tidak memuat prinsip-prinsip ilmiah sebuah dasar ilmu pengetahuan. Merupakan kesalahan fatal jika ada satu usaha untuk menyesuaikan ayat-ayat al qur’an dengan teori ilmu pengetahuan modern melalui interpretasi-interpretasi yang fantastis dan juga berusaha membuktikan bahwa al qur’an mengusulkan dan membenarkan teori-teori tsb (Ali, 1997:66). Ketika sebuah penemuan ilmiah dibarat ditemukan orang tergopoh-gopoh untuk membuka al qur’an dan bersegera mencari indikasi dari teori-teori tersebut dalam ayat al qur’an. Ini adalah pendekatan yang salah di dalam mempelajari al qur’an. Sebab al qur’an bukanlah kitab atau buku ilmu pengetahuan fisika, matematika, kesehatan, sejarah atau semacamnya. Alqur’an adalah kitab hidayah yang berisi seperangkat ajaran / doktrin teologis, sekalipun di dalamnya terdapat pembahasan-pembahasan yang sifatnya ilmiah. Akan tetapi Ia tak berisi dan memuat seluruh teori-teori ilmu pengetahuan. Keberlawanan ayat dengan teori ilmu pengetahuan bukan karena kesalahan makna yang dikandung oleh al qur’an, akan tetapi karena kebenaran ilmu pengetahuan masih belum final. Kebenaran ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia bisa berubah-ubah dan senantiasa dikoreksi cendekiawan pada masa-masa berikutnya.

Mengakhiri tulisan ini patut kiranya kita perhatikan uraian yang disampaikan oleh Manna’ al Qathan (Tt:270) berikut ini :

يخطئ كثير من الناس حين يحرصون على أن يتضمن القران الكريم كل نظرية علمية و كلما ظهرة نظرية جديدة التمسوا لها محملا في اية يتأولونها بما يوافق هذه النظريةومنشأ الخطأ في هذا ان العلوم تتجد نظرياتها مع الزمن تبعا لسنة التقدم فلا تزال في نقص دائم يكتنفه الغموضأحيانا والخطأ أحياناأخرى و تستمر هكذا حتى تقترب من الصواب و تصل إلى درجة اليقين وإلى نظرية منها تبدأ بالجدس ولتخمين و تخضع للتجربة حتى يثبت يقينها او يتضح زيفها وخطؤها و لهذا كانت عرضة للتبديل و كثير من القواعد العلمية التى ظن الناس انها اصبحت من المسلمات تتزعزع بعد ثبوت و تتقوض بعد الرسوخ ثم يستأنف الباحثون تجاربهم فيها مرة أخرى

artinya : Sebagian besar orang terjebak dalam kesalahan ketika ia beranggapan bahwa al qur’an sesungguhnya mengandung atau memuat segala teori-teori ilmiah dan setiap kali muncul teori-teori terbaru, dengan serta merta mereka berpegang pada kandungan ayat-ayat al qur’an yang dita’wilkan dengan pengertian yang sesuai dengan teori ilmiah tersebut. Adapun sebab-sebab dari kesalahan itu adalah bahwa teori-teori ilmu pengetahuan secara teoritis senantiasa baru atau dapat diperbaharui disesuaikan dengan semangat zaman dan peradaban. Oleh karena itu teori-teori itu senantiasa dalam posisi mengandung kelemahan atau kekurangan selama-lamanya.terkadang diliputi kekaburan dan disaat lain diliputi kesalahan. Ia akan senantiasa demikian samapai ia mendekati kebenaran dan dapat mencapai tingkat keyakinan. Semua teori ilmu pengetahuan dimulaid engan asumsi dan hipotesis serta tunduk pada eksperimen sampai terbukti validitasnya atau nampak jelas kepalsuan dan kesalahannya. Oleh karena itu ilmu pengetahuan selalu terancam perubahan . Cukup banyak prinsip-prinsip ilmiah yang disangka orang sebagai hal yang diterima sebagai kebenaran menjadi goncang setelah mapan dan runtuh setelah mantap. Kemudian peneliti memulai kembali eksperimen mereka.

D. Kesimpulan.

Kekayaan makna dan muatan ilmu pengetahuan yang terkandung dalam al qur’an sesungguhnya merupakan modal dasar paling penting sekaligus memompakan darah segar bagi perkembangan dan kemajuan peradaban Islam masa lalu. Lebih dari itu gagasan intelektual, semangat dan anjuran al qur’an agar masyarakat muslim mempelajari fenomena alam (ayat-ayat kauniyah) sebegitu juh telah menggairahkan daya intelektual mereka untuk selalu berinovasi dan melakukan riset-riset ilmiah. Sehingga sejarah muslim masa lalu dipenuhi dengan nama-nama besar penggagas ilmu pengetahuan alam.
Pada titik balik jatuhnya peradaban Islam kaum muslimin dipaksa untuk menjadi penonton bagi perkembangan dan percepatan sains-sains modern yang didesain oleh masyarakat Barat. Sehingga muncul kesan seolah-olah nilai normatif Islam tidak mampu merespon kemajuan tekhnologi dan tidak memiliki kaitan dalam bentuk apapun dengan ilmu pengetahuan modern. Sejarah gemilang masa lalu seolah telah terputus begitu saja tanpa menyisakan sepotong memoripun tentang aspek Islam dan kaitan yang erat dengan ilmu pengetahuan.

Untungnya dalam beberapa puluh tahun terakhir , muncul pemikir-pemikir cemerlang yang mencoba untuk membuka wawasan masyarakat muslim bahwa Islam bukan anti ilmu pengetahuan. Muncul berbagai upaya untuk memberikan penguatan pada beberapa teks-teks al qur’an bahwa keberlawanan maknanya dengan teori-teori ilmiah bukanlah berarti menunjukan kelemahan dan mengurangi kebenaran mutlak al qur’an. Sesungguhnya kesejajaran ilmu pengetahuan dengan al qur’an bukanlah terletak pada kesamaan nilai teoritisnya, akan tetapi lebih kepada penciptaan ikatan-ikatan positif bahwa teks-teks al qur’an sama sekali tidak menghambat bagi dikembangkannya prinsip-prinsip, hukum-hukum dari teori-teori ilmiah tertentu. bahkan al qur’an mendorong umat manusia agar senantiasa mengamati, mempelajari dan meneliti setiap fenomena yang terjadi di dunia ini untuk dijadikan sebagai basis penciptaan dasar-dasar ilmu pengetahuan.

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com