Bagi seorang pendidik dan nara sumber, kiranya kita perlu MENINGKATKAN WIBAWA DAN KREDIBILITAS, beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah :
1. Tambah pengetahuan Anda
“Seorang da’i harus mengetahui berbagai persoalan agama, karena ia akan selalu
menghadapi berbagai persoalan agama dan penafsirannya yang dihadapi oleh para
pendukungnya. Disamping itu perlu juga memiliki wawasan fikir Islam, agar dapat
memandang semua persoalan dan kejadian dengan pandangan Islam dan
menghukumnya dengan kacamata Islam” (Musthafa Masyhur).
Sebagai murobbi, Anda jangan seperti jalan yang dilalui kendaraan. Artinya, Anda
hanya dilalui mad’u Anda, karena pengetahuan Anda tertinggal dibandingkan mad’u.
Mungkin pada awal halaqah, mad’u terkagum-kagum dengan pengetahuan Anda, tapi
lama kelamaan kekaguman itu hilang. Mengapa? Karena pengetahuan Anda tidak
bertambah. Mad’u hanya mendapatkan pengetahuan yang sama dari waktu ke waktu.
Akhirnya, ia jadi bosan dan tidak antusias untuk halaqah karena suasana terlalu
monoton. Mungkin ia akan lari dari Anda untuk mencari murobbi lain yang
pengetahuannya lebih tinggi.
Oleh sebab itu, tambahlah terus menerus pengetahuan Anda, jika tidak ingin
ditinggalkan mad’u (seperti jalan yang dilalui kendaraan). Banyaklah membaca,
berdiskusi, mengikuti seminar, menghadiri forum-forum majelis ilmu, dan lain-lain.
Tambahlah pengetahuan Anda dalam berbagai bidang, terutama bidang agama dan
sosial. Juga tambahlah pengetahuan di bidang yang sesuai dengan potensi Anda.
Jika pengetahuan Anda tidak bertambah, Anda juga akan bosan menghadiri
halaqah karena harus mengulang-ulang materi yang sama.
2. Tambah pengalaman Anda
“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu
berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang
mendustakan (rasul-rasul)” (QS. 3 : 137).
Semakin tinggi “jam terbang” Anda sebagai murobbi, semakin ahli Anda membina.
Pengalaman sangat dibutuhkan dalam membina. Persis seperti profesi montir yang
semakin terampil kalau berpengalaman. Untuk mengakselarasi pengalaman Anda,
sering-seringlah membaca buku tentang cara membina halaqah (seperti membaca
buku ini, misalnya) dan sering-seringlah berdiskusi antar sesama murobbi untuk tukar
menukar pengalaman.
Jika Anda pernah gagal membina, janganlah kecewa. Anggap itu sebagai
pengalaman berharga. Pelajari faktor-faktor kegagalannya untuk bekal membina di
kemudian hari. Cobalah terus membina walau sering gagal. Hindari rasa putus asa.
Apalagi cepat menyimpulkan bahwa Anda tidak berbakat membina gara-gara sering
gagal. Percayalah! Semakin sering Anda membina berbagai kelompok halaqah
(walau sering gagal), semakin terampil Anda membina. Kelak kegagalan Anda akan
semakin berkurang karena Anda semakin berpengalaman. Bahkan mungkin suatu saat
kelak Anda berhak mendapat gelar Ph.D (Pakar Halaqah dan Dakwah).
3. Katakan tidak tahu, jika memang tidak tahu
“…Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. 33 : 72).
Bila mad’u menyampaikan pertanyaan, terutama tentang hukum agama, yang Anda
sendiri tak tahu jawabannya, maka katakan saja secara jujur bahwa Anda tak tahu.
Jangan sok tau untuk menjawab pertanyaan yang memang belum diketahui. Hal itu
sama saja menjerumuskan mad’u pada pengetahuan yang salah. Dan jika suatu ketika
ia tahu jawaban Anda salah, kredibilitas Anda di matanya akan jatuh. Lain kali, ia
akan ragu-ragu dengan jawaban Anda terhadap pertanyaan lain, walau jawaban itu
benar. Tsiqoh (kepercayaan)nya kepada Anda juga bisa goyah gara-gara Anda sok
tau.
Percayalah! Jika Anda menjawab dengan jujur bahwa Anda tak tahu, maka hal itu
tidak akan menjatuhkan wibawa Anda. Justru mereka akan simpati kepada Anda,
karena Anda jujur dan tidak sok tau. Mereka akan lebih simpati lagi jika Anda
kemudian mencoba mencari tahu jawaban pertanyaan tersebut dan kemudian
menyampaikannya kepada mereka pada pertemuan selanjutnya.
4. Jangan terlalu banyak bercanda
“Janganlah berbantah-bantahan dengan saudaramu dan jangan bersendau gurau
dengannya (HR. Tirmidzi).
Murobbi mestinya dikesankan oleh mad’unya sebagai orang yang serius. Unsur serius
harus melekat pada diri murobbi, karena murobbi adalah pejuang Islam. Seorang
pejuang Islam harus serius karena ia sedang mengerjakan pekerjaan yang besar dan
penting. Agar tampak serius, murobbi jangan terlalu banyak bercanda dengan
mad’unya, baik di dalam atau di luar halaqah. Sebab hal itu akan memberi kesan
sebaliknya, kesan sebagai pelawak, bukan pejuang Islam.
Namun, jangan juga Anda sampai dikesankan mad’u sebagai orang yang terlalu
serius, bahkan mungkin kaku dan angker. Anda perlu dikesankan juga oleh mad’u
sebagai orang yang ramah dan supel. Untuk itu, sesekali boleh juga Anda bercanda
dengan mad’u. Bercanda itu seperti garam dalam makanan. Perlu ada, tapi jangan
terlalu banyak.
5. Hapal beberapa ayat/hadits “favorit”
“Karenanya, al akh da’i harus selalu bersemangat membekali diri dengan ilmunya,
menghafalkan ajat-ayat Qur’an dan hadist Rasul semampunya, selalu mentelaah
sirah Nabawiyah dan sejarah Islam. Di situ ia akan mendapatkan bekal bagus yang
dapat membantu dakwahnya” (Musthafa Masyhur).
Anda ingin menjadi murobbi yang tampak kompeten? Hapalkan sebanyak mungkin
ayat dan hadits. Namun, jika Anda tak punya waktu untuk menghapal banyak ayat
dan hadits, hapalkan saja beberapa ayat dan hadits “favorit”. Yakni ayat dan hadits
yang sifatnya umum dan sering diungkap orang. Misalnya, surah 21 : 107, 3 : 85, 2 :
120, 2 : 108, hadits “ballighu ‘anni walau ayah, innamal a’malu bin niyyah, tholabul
ilmi faridhotun ‘alal muslim, dan lain-lain.
Dengan menghapal ayat dan hadits “favorit” serta sering menyebutkannya di
hadapan mad’u, Anda akan tampak lebih kompeten. Kekurangan Anda yang hanya
hapal sedikit ayat/hadits akan tertutupi. Mad’u tak tahu bahwa Anda sebenarnya
hanya punya hapalan yang itu-itu saja. Bahkan mungkin Anda sudah dipanggilnya
dengan “ustadz”.
Suatu hal yang keliru, jika Anda jarang menyebut ayat dan hadist dalam
penyampaian materi Anda. Kredibilitas Anda bisa berkurang, Anda mungkin
dianggap mad’u kurang layak untuk membina mereka.
6. Berikan informasi eksklusif
“..Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS. 61 :
13).
Salah satu cara agar Anda cepat dipercaya mad’u adalah memberikannya informasi
yang menurutnya eksklusif (istimewa). Informasi eksklusif dapat berupa informasi
yang jarang diekspos media massa, informasi yang diekspos media massa tapi Anda
mendapatkan informasi “bocoran” yang berbeda, informasi yang menurut mad’u
adalah amniyah (padahal tidak), informasi tentang diri Anda yang belum banyak
diketahui orang lain, dan informasi tentang rencana Anda terhadap halaqah atau
terhadap diri mad’u.
Dengan memberikan informasi ekslusif, mad’u akan merasa dipercaya oleh Anda,
sehingga ia pun akan percaya dengan Anda. Dari kepercayaan tersebut, ia akan lebih
terbuka menyampaikan permasalahannya kepada Anda, sehingga Anda dapat lebih
cepat dan tepat memahami mad’u. Pemahaman yang tepat terhadap mad’u akan
memudahkan Anda dalam membinanya.
Namun perlu diingat, yang dinamakan informasi ekslusif bagi setiap mad’u bisa
berbeda-beda. Bagi mad’u tertentu suatu informasi mungkin menurutnya eksklusif,
tapi bagi mad’u lain mungkin tidak.
Selain itu, informasi eksklusif bukanlah informasi bohong (isyu). Jika informasi
bohong yang Anda berikan, dan mad’u mengetahuinya, maka kredibilitas Anda akan
turun. Bukan juga informasi eksklusif itu berupa informasi amniyah. Jika itu yang
Anda lakukan berarti Anda telah melanggar amniyah.
7. Jangan mau dibayar
“Kalau bukan karena murid, guru tidak akan mendapatkan pahala. Oleh karena itu,
janganlah Anda meminta upah kecuali dari Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah
mengisahkan Nuh as, “Wahai kaumku. Aku tidak meminta harta benda kepada kamu
(sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanya dari Allah” (QS. 11 : 29) (Imam Al
Ghazali).
Murobbi beda dengan penceramah (ustadz). Jika murobbi berperan sebagai pembina
(orang tua, sahabat, guru, dan pemimpin) bagi mad’u, penceramah lebih berperan
sebagai guru (ustadz) saja. Hubungan murobbi dengan mad’u sangat dekat dan
berlangsung lama. Sebaliknya hubungan penceramah dengan mad’u jauh, bahkan
mungkin tidak saling mengenal, dan sifatnya sementara. Karena itu, penceramah
boleh mendapat honor ceramah. Sebaliknya, murobbi tidak boleh! Mengapa? Jika
murobbi menerima bayaran (honor) dari mad’u dapat dipastikan sikapnya akan sulit
obyektif dan sulit bersikap asertif kepada mad’u. Jika mad’u berbuat salah, ia akan
sulit bersikap tegas karena kuatir mad’u tersinggung dan “mogok” membayar.
Sebaliknya, mad’u juga akan meremehkan murobbi karena merasa membayarnya.
Jika ditegur murobbi, mungkin ia berkata (dalam hati), “urusan apa Anda menegur
saya. Bukankah kamu saya yang bayar?”.
Jika murobbi dibayar, hubungan murobbi sebagai qiyadah (pemimpin dakwah)
dan mad’u sebagai jundi (tentara dakwah) juga akan sulit terealisir. Karena hubungan
mereka bukan berdasarkan kesadaran dan keikhlasan untuk mengikat diri dalam amal
jamai’ (aktivitas bersama), tapi berdasarkan pamrih (membayar dan dibayar).
8. Berikan keteladanan dengan kesederhanaan
“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar
dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada
mereka: “Inilah harta bendamu yag kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka
rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu” (QS. 9 : 35).
Keteladanan adalah cara ampuh mempengaruhi orang lain. Karena itu, jadikan
keteladanan sebagai senjata utama mempengaruhi mad’u. Dari sekian banyak
keteladanan yang perlu Anda lakukan, maka sikap sederhana merupakan pilar
utamanya. Kenapa? Sebab sikap sederhana sangat efektif untuk membuat orang
menaruh rasa hormat kepada pelakunya. Sebaliknya, bermewah-mewahan membuat
orang iri dan benci kepada pelakunya. Orang yang suka bermewahan identik dengan
orang yang egois dan tidak solider terhadap penderitaan orang lain.
Jika Anda sebagai murobbi hidup bermewahan, sulit bagi mad’u percaya bahwa
Anda serius memperjuangkan nasib umat. Namun jika Anda bersahaja, mad’u akan
percaya bahwa Anda tidak memperjuangkan diri sendiri. Mereka akan hormat dan
segan dengan Anda. Apalagi jika mereka tahu, Anda sebenarnya dapat hidup mewah,
kalau mau. Kesederhanaan merupakan daya magnet yang sangat kuat mempengaruhi
orang lain. Inilah yang dilakukan Rasulullah saw ketika mempengaruhi orang lain,
sehingga orang berbondong-bondong masuk ke dalam Islam.
9. Hati-hati dalam berpendapat
“Ucapkanlah perkataan kalian, tetapi jangan sampai syetan memperdaya kalian”
(HR. Abu Daud).
Hati-hati dalam berpendapat, sebab suara Anda sangat diperhatikan mad’u. Hal ini
terutama jika mad’u sudah tsiqoh (percaya) dengan Anda. Sebelum berpendapat,
pikirkan dahulu dengan matang apa yang akan Anda utarakan. Pikirkan juga dampak
pendapat Anda terhadap mad’u. Jangan ceplas ceplos. Ngomong dulu baru mikir. Hal
ini berbahaya, jika pendapat Anda salah. Pendapat yang salah, bukan hanya
mengurangi kredibilitas Anda sebagai murobbi, tapi juga dapat menjerumuskan
mad’u pada kesalahan. Sebagai contoh, mad’u Anda bertanya kepada Anda tentang
bagaimana sikap kita terhadap orang kafir. Lalu Anda dengan tegas mengatakan
bahwa mereka harus dimusuhi. Mad’u akan mengambil pendapat Anda sebagai
pegangan baginya dalam pergaulan. Setiap bertemu orang kafir ia akan
memusuhinya. Padahal tidak semua orang kafir perlu dimusuhi. Ada kriteria dan
batasannya. Namun karena Anda tidak merinci pendapat Anda ketika mad’u
menanyakannya, mad’u menerapkannya untuk segala situasi. Inilah contoh, jika
murobbi kurang hati-hati berpendapat. Karena itu, bijaksanalah dalam berpendapat.
Anda perlu memahami kapan saatnya berpendapat yang memerlukan rincian, kapan
yang tidak, kapan juga mengatakan tidak tahu, dan kapan mengatakan tahu dengan
tegas.
Dalam kasus lain, jika Anda ragu-ragu dengan pendapat Anda sendiri, sampaikan
hal itu kepada mad’u sehingga ia tahu bahwa pendapat Anda itu belum final. Atau
katakan padanya dengan pendapat yang global. Tidak terlalu spesifik. Misalnya,
mad’u bertanya tentang siapa sebaiknya yang menjadi pembicara dalam seminar yang
diadakan oleh halaqah. Anda tidak tahu atau ragu menunjuk siapa nama yang cocok
untuk seminar tersebut, maka katakan padanya bahwa pembicaranya bisa siapa saja
yang penting cocok dengan tema seminar tersebut. Jawaban yang global ini untuk
menjaga agar Anda tidak disalahkan oleh mad’u, jika kelak pendapat Anda ternyata
salah atau kurang tepat.
10. Manfaatkan keterampilan khusus Anda
“..dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat,
untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. 6 : 165)
Anda bisa menyanyi? Anda bisa berpantun ria? Anda bisa melukis, melawak,
bermain sulap, menulis atau melakukan hal-hal yang unik? Jika Anda memiliki
keterampilan khusus (yang tidak bertentangan dengan syar’i), gunakan itu untuk
menarik perhatian mad’u. Misalnya, jika suara Anda merdu, mengapa tidak menyanyi
nasyid atau bersholawat di tengah-tengah penyampaian materi Anda? Hal itu bukan
saja menjadi selingan yang menarik, tapi juga dapat menggugah kesadaran mad’u
lebih baik lagi. Mad’u akan respek dengan Anda karena Anda memiliki keterampilan
khusus yang mungkin tidak dimilikinya. Ia juga akan mendapatkan wawasan dan
pengalaman baru dari keterampilan Anda. Karena itu, carilah dan manfaatkanlah
kelebihan khusus Anda untuk menambah kredibilitas dan menarik simpati mad’u.
Sebenarnya, setiap orang memiliki kelebihan khusus. Sayangnya kelebihan
tersebut sering tidak dimanfaatkan oleh orang itu sendiri. Mungkin karena ia tidak
tahu apa kelebihannya, mungkin tahu tapi bingung memanfaatkannya, atau mungkin
malu memperlihatkannya kepada orang lain.
11. Jaga bau badan Anda
“Rasulullah saw menyukai wewangian dan membenci bau yang tidak sedap” (Imam
Al Ghazali).
Pernah tidak Anda berdekatan dengan orang yang bau badannya nggak enak?
Bagaimana rasanya? Anda tentu merasa terganggu bukan? Bahkan boleh jadi Anda
jadi sulit konsentrasi. Nah….kalau yang bau badan itu adalah Anda sebagai murobbi,
bagaimana dampaknya bagi mad’u? Di dalam halaqah, bau badan seseorang lebih
cepat tercium karena jaraknya berdekatan. Mad’u akan sulit konsentrasi jika bau
badan Anda tidak enak (apalagi menyengat). Ia juga akan menilai Anda sebagai orang
yang kurang peduli terhadap kebersihan. Bahkan lebih jauh ia bisa menilai Anda
jarang mandi!
Sayangnya, seringkali orang yang bau badannya menganggu itu tidak
menyadarinya, sehingga ia cuek saja. Padahal bau badan, yang kelihatannya sepele
itu, dapat menjadi persoalan besar. Pernah ada iklan di teve, tentang seorang atlit
yang tidak jadi diwawancarai wartawan karena bau badannya mengganggu. Nah
jelaskan? Bau badan bisa menjadi persoalan besar. Karena itu, instrospeksi bau badan
Anda. Hilangkan bau badan Anda dengan mandi dan memakai deodorant atau
penghilang bau badan. Jika setelah memakai deodorant, bau badan Anda tetap tidak
enak, konsultasikan ke dokter. Mungkin ada gangguan kesehatan dalam tubuh Anda.
12. Hati-hati dengan bau mulut Anda
”Rasulullah saw tidak makan bawang merah, bawang putih, dan jenis makanan yang
berbau tidak sedap” (Imam Al Ghazali).
Selain bau badan, mulut juga perlu dijaga agar tidak mengeluarkan bau yang tidak
sedap. Mulut yang bau akan membuat mad’u enggan berdekatan dengan Anda. Bau
mulut juga menujukkan ketidakpedulian terhadap kesehatan dan kebersihan. Sama
seperti bau badan, seringkali orang yang bau mulutnya tidak sedap kurang
menyadarinya.Jagalah bau mulut Anda agar terhindar dari bau yang tidak sedap dengan
menggosok gigi, memakai obat pengharum mulut dan memperhatikan apa yang Anda
makan. Anda perlu menghindari makanan yang dapat membuat mulut berbau tidak
sedap sebelum bertemu mad’u, terutama sebelum mengisi halaqah. Misalnya,
menghindari makan pete, jengkol, bawang putih, makanan yang berbau amis, dan
lain-lain. Nabi Muhammad saw juga memperhatikan bau mulut. Misalnya, dalam
sebuah Hadits, Nabi melarang orang yang habis makan bawang putih pergi ke masjid
untuk sholat jama’ah sebelum baunya hilang.
13. Jangan banyak mengeluh di depan peserta (selalu terlihat optimis)
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia
ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah…” (QS. 70 : 19-20).
Jika Anda terlihat sering mengeluh di depan mad’u, maka mereka akan pergi dari
Anda. Orang tidak suka dengan mereka yang suka mengeluh. Baik mengeluh tentang
keadaan dirinya, orang lain, atau situasi sekitarnya. Misalnya, mengeluhkan tentang
keadaan dirinya yang banyak kekurangan, mengeluhkan tentang orang lain yang
menyakiti dirinya, mengeluhkan kondisi sekarang yang sulit mencari uang, dan lainlain.
Hal ini wajar, sebab orang yang suka mengeluh menunjukkan orang tersebut
frustasi, gagal dan pesimis terhadap masa depan. Ingat! Anda adalah murobbi, yang
ingin merubah orang lain ke masa depan yang lebih baik. Sebelum Anda merubah
orang lain ke arah yang lebih baik, Anda sendiri harus optimis bahwa masa depan
Anda lebih baik. Optimis juga bahwa apa yang Anda bawa (dakwah) juga akan
sukses. Rasullullah saw berhasil dalam dakwah karena ia orang yang optimis. Ia juga
berhasil menularkan jiwa optimisnya kepada para sahabatnya, sehingga mereka
optimis juga. Sejarah akhirnya membuktikan barisan orang optimis itu berhasil
mengalahkan berbagai rintangan untuk menuju cita-citanya, yakni kejayaan Islam.
Jika pun Anda ingin mengeluh, mengeluhlah kepada orang-orang tertentu saja
yang dapat dipercaya (misalnya suami/isteri, sahabat, orang tua, murobbi). Jangan
banyak mengeluh kepada mad’u (kecuali sesekali). Anda harus lebih sering terlihat
optimis. Sebab Anda adalah pemimpin bagi mereka. Pemimpin pantang banyak
mengeluh di depan orang yang dipimpinnya!
14. Penuhilah janji Anda
“..sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungan jawabnya” (QS. 17 : 34).
Penuhilah janji Anda, jika Anda berjanji. Jika Anda melanggar janji berarti Anda
melakukan “penarikan”. Maksudnya, Anda membuat mad’u kecewa dan tidak simpati
kepada Anda. Melanggar janji juga merupakan tanda orang yang kurang dewasa dan
munafik. Karena itu, jika Anda ragu untuk memenuhi janji, maka janganlah Anda
berjanji. Apalagi terlalu sering “mengobral” janji hanya karena ingin memberi
harapan kepada mad’u.Mungkin, Anda berpikir pelanggaran janji Anda akan dimaklumi mad’u, karena
Anda banyak membantu mereka. Namun jika Anda sering melanggar janji, mad’u
lama kelamaan juga akan kecewa dan tidak simpati lagi kepada Anda. Dampak
selanjutnya, jika Anda berjanji lagi, dan Anda betul-betul akan memenuhinya, mad’u
tidak akan percaya lagi, karena Anda dianggapnya pembohong (orang yang suka
melanggar janji).
15. Jangan menjelek-jelekkan mad’u di depan mad’u lain
“Tahuah kalian apa itu ghibah?’ Mereka menjawab, Allah dan rasul-Nya yang lebih
mengetahui.” Nabi saw bersabda: “Kamu menyebut saudaramu dengan hal yang
tidak disukainya.” Ditanyakan, “Bagaimana jika apa yang aku katakana itu ada
pada diri saudaraku itu?” Nabi saw menjawab: “Jika apa yang kau katakan itu ada
pada dirinya maka sungguh kamu telah meggunjingnya, dan jika tidak ada pada
dirinya maka sungguh kamu telah menyebutkan hal yang dusta tentang dirinya” (HR.
Muslim).
Jika Anda merasa kecewa atau kesal dengan mad’u, maka jangan Anda jelek-jelekkan
ia di depan mad’u lain. Misalnya, ketika ia tidak hadir di halaqah, Anda mengaitkan
ketidakhadirannya dengan perilakukanya yang tidak Anda senangi. Anda
menyampaikan hal itu di depan halaqah. Hal ini, selain termasuk ghibah yang
dilarang Islam, juga dapat membuat mad’u yang dijelek-jelekkan menjadi antipati
terhadap Anda. Mad’u yang mendengar Anda menjelek-jelekkan mad’u lain juga
akan merasa murobbinya suka ghibah. Mereka akan berpikir bahwa jika mereka tidak
disenangi murobbi pasti akan diperlakukan sama dengan dijelek-jelekkan di depan
mad’u lain. Jika mad’u yang mendengar Anda mengghibah mad’u lain setuju dengan
pendapat Anda, mereka akan menjaga jarak dengan mad’u tersebut. Akhirnya,
hubungan antar mad’u menjadi renggang. Hubungan Anda dengan mad’u yang Anda
jelek-jelekkan juga menjadi kurang harmonis.
Karena itu, jika Anda kurang suka dengan perilaku mad’u, lebih baik Anda
dekati ia, lalu bicarakan ketidaksukaan Anda secara empat mata dengannya. Hal ini
lebih baik dampaknya dan lebih membuat mad’u respek dengan Anda.
Jika ada mad’u yang mencoba memancing Anda untuk menjelek-jelekan mad’u
lain, maka janganlah terpancing. Lebih baik Anda diam. Atau malah menegurnya
karena telah melakukan ghibah.
16. Jangan suka mengumbar kemarahan
“Siapakah yang kalian anggap perkasa?’ Kami menjawab: “Orang yang tidak bisa
dikalahkan oleh siapapun.” Nabi saw bersabda: “Bukan itu, tetapi orang yang dapat
mengendalikan dirinya pada saat marah” (HR. Muslim).
1. Tambah pengetahuan Anda
“Seorang da’i harus mengetahui berbagai persoalan agama, karena ia akan selalu
menghadapi berbagai persoalan agama dan penafsirannya yang dihadapi oleh para
pendukungnya. Disamping itu perlu juga memiliki wawasan fikir Islam, agar dapat
memandang semua persoalan dan kejadian dengan pandangan Islam dan
menghukumnya dengan kacamata Islam” (Musthafa Masyhur).
Sebagai murobbi, Anda jangan seperti jalan yang dilalui kendaraan. Artinya, Anda
hanya dilalui mad’u Anda, karena pengetahuan Anda tertinggal dibandingkan mad’u.
Mungkin pada awal halaqah, mad’u terkagum-kagum dengan pengetahuan Anda, tapi
lama kelamaan kekaguman itu hilang. Mengapa? Karena pengetahuan Anda tidak
bertambah. Mad’u hanya mendapatkan pengetahuan yang sama dari waktu ke waktu.
Akhirnya, ia jadi bosan dan tidak antusias untuk halaqah karena suasana terlalu
monoton. Mungkin ia akan lari dari Anda untuk mencari murobbi lain yang
pengetahuannya lebih tinggi.
Oleh sebab itu, tambahlah terus menerus pengetahuan Anda, jika tidak ingin
ditinggalkan mad’u (seperti jalan yang dilalui kendaraan). Banyaklah membaca,
berdiskusi, mengikuti seminar, menghadiri forum-forum majelis ilmu, dan lain-lain.
Tambahlah pengetahuan Anda dalam berbagai bidang, terutama bidang agama dan
sosial. Juga tambahlah pengetahuan di bidang yang sesuai dengan potensi Anda.
Jika pengetahuan Anda tidak bertambah, Anda juga akan bosan menghadiri
halaqah karena harus mengulang-ulang materi yang sama.
2. Tambah pengalaman Anda
“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu
berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang
mendustakan (rasul-rasul)” (QS. 3 : 137).
Semakin tinggi “jam terbang” Anda sebagai murobbi, semakin ahli Anda membina.
Pengalaman sangat dibutuhkan dalam membina. Persis seperti profesi montir yang
semakin terampil kalau berpengalaman. Untuk mengakselarasi pengalaman Anda,
sering-seringlah membaca buku tentang cara membina halaqah (seperti membaca
buku ini, misalnya) dan sering-seringlah berdiskusi antar sesama murobbi untuk tukar
menukar pengalaman.
Jika Anda pernah gagal membina, janganlah kecewa. Anggap itu sebagai
pengalaman berharga. Pelajari faktor-faktor kegagalannya untuk bekal membina di
kemudian hari. Cobalah terus membina walau sering gagal. Hindari rasa putus asa.
Apalagi cepat menyimpulkan bahwa Anda tidak berbakat membina gara-gara sering
gagal. Percayalah! Semakin sering Anda membina berbagai kelompok halaqah
(walau sering gagal), semakin terampil Anda membina. Kelak kegagalan Anda akan
semakin berkurang karena Anda semakin berpengalaman. Bahkan mungkin suatu saat
kelak Anda berhak mendapat gelar Ph.D (Pakar Halaqah dan Dakwah).
3. Katakan tidak tahu, jika memang tidak tahu
“…Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. 33 : 72).
Bila mad’u menyampaikan pertanyaan, terutama tentang hukum agama, yang Anda
sendiri tak tahu jawabannya, maka katakan saja secara jujur bahwa Anda tak tahu.
Jangan sok tau untuk menjawab pertanyaan yang memang belum diketahui. Hal itu
sama saja menjerumuskan mad’u pada pengetahuan yang salah. Dan jika suatu ketika
ia tahu jawaban Anda salah, kredibilitas Anda di matanya akan jatuh. Lain kali, ia
akan ragu-ragu dengan jawaban Anda terhadap pertanyaan lain, walau jawaban itu
benar. Tsiqoh (kepercayaan)nya kepada Anda juga bisa goyah gara-gara Anda sok
tau.
Percayalah! Jika Anda menjawab dengan jujur bahwa Anda tak tahu, maka hal itu
tidak akan menjatuhkan wibawa Anda. Justru mereka akan simpati kepada Anda,
karena Anda jujur dan tidak sok tau. Mereka akan lebih simpati lagi jika Anda
kemudian mencoba mencari tahu jawaban pertanyaan tersebut dan kemudian
menyampaikannya kepada mereka pada pertemuan selanjutnya.
4. Jangan terlalu banyak bercanda
“Janganlah berbantah-bantahan dengan saudaramu dan jangan bersendau gurau
dengannya (HR. Tirmidzi).
Murobbi mestinya dikesankan oleh mad’unya sebagai orang yang serius. Unsur serius
harus melekat pada diri murobbi, karena murobbi adalah pejuang Islam. Seorang
pejuang Islam harus serius karena ia sedang mengerjakan pekerjaan yang besar dan
penting. Agar tampak serius, murobbi jangan terlalu banyak bercanda dengan
mad’unya, baik di dalam atau di luar halaqah. Sebab hal itu akan memberi kesan
sebaliknya, kesan sebagai pelawak, bukan pejuang Islam.
Namun, jangan juga Anda sampai dikesankan mad’u sebagai orang yang terlalu
serius, bahkan mungkin kaku dan angker. Anda perlu dikesankan juga oleh mad’u
sebagai orang yang ramah dan supel. Untuk itu, sesekali boleh juga Anda bercanda
dengan mad’u. Bercanda itu seperti garam dalam makanan. Perlu ada, tapi jangan
terlalu banyak.
5. Hapal beberapa ayat/hadits “favorit”
“Karenanya, al akh da’i harus selalu bersemangat membekali diri dengan ilmunya,
menghafalkan ajat-ayat Qur’an dan hadist Rasul semampunya, selalu mentelaah
sirah Nabawiyah dan sejarah Islam. Di situ ia akan mendapatkan bekal bagus yang
dapat membantu dakwahnya” (Musthafa Masyhur).
Anda ingin menjadi murobbi yang tampak kompeten? Hapalkan sebanyak mungkin
ayat dan hadits. Namun, jika Anda tak punya waktu untuk menghapal banyak ayat
dan hadits, hapalkan saja beberapa ayat dan hadits “favorit”. Yakni ayat dan hadits
yang sifatnya umum dan sering diungkap orang. Misalnya, surah 21 : 107, 3 : 85, 2 :
120, 2 : 108, hadits “ballighu ‘anni walau ayah, innamal a’malu bin niyyah, tholabul
ilmi faridhotun ‘alal muslim, dan lain-lain.
Dengan menghapal ayat dan hadits “favorit” serta sering menyebutkannya di
hadapan mad’u, Anda akan tampak lebih kompeten. Kekurangan Anda yang hanya
hapal sedikit ayat/hadits akan tertutupi. Mad’u tak tahu bahwa Anda sebenarnya
hanya punya hapalan yang itu-itu saja. Bahkan mungkin Anda sudah dipanggilnya
dengan “ustadz”.
Suatu hal yang keliru, jika Anda jarang menyebut ayat dan hadist dalam
penyampaian materi Anda. Kredibilitas Anda bisa berkurang, Anda mungkin
dianggap mad’u kurang layak untuk membina mereka.
6. Berikan informasi eksklusif
“..Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS. 61 :
13).
Salah satu cara agar Anda cepat dipercaya mad’u adalah memberikannya informasi
yang menurutnya eksklusif (istimewa). Informasi eksklusif dapat berupa informasi
yang jarang diekspos media massa, informasi yang diekspos media massa tapi Anda
mendapatkan informasi “bocoran” yang berbeda, informasi yang menurut mad’u
adalah amniyah (padahal tidak), informasi tentang diri Anda yang belum banyak
diketahui orang lain, dan informasi tentang rencana Anda terhadap halaqah atau
terhadap diri mad’u.
Dengan memberikan informasi ekslusif, mad’u akan merasa dipercaya oleh Anda,
sehingga ia pun akan percaya dengan Anda. Dari kepercayaan tersebut, ia akan lebih
terbuka menyampaikan permasalahannya kepada Anda, sehingga Anda dapat lebih
cepat dan tepat memahami mad’u. Pemahaman yang tepat terhadap mad’u akan
memudahkan Anda dalam membinanya.
Namun perlu diingat, yang dinamakan informasi ekslusif bagi setiap mad’u bisa
berbeda-beda. Bagi mad’u tertentu suatu informasi mungkin menurutnya eksklusif,
tapi bagi mad’u lain mungkin tidak.
Selain itu, informasi eksklusif bukanlah informasi bohong (isyu). Jika informasi
bohong yang Anda berikan, dan mad’u mengetahuinya, maka kredibilitas Anda akan
turun. Bukan juga informasi eksklusif itu berupa informasi amniyah. Jika itu yang
Anda lakukan berarti Anda telah melanggar amniyah.
7. Jangan mau dibayar
“Kalau bukan karena murid, guru tidak akan mendapatkan pahala. Oleh karena itu,
janganlah Anda meminta upah kecuali dari Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah
mengisahkan Nuh as, “Wahai kaumku. Aku tidak meminta harta benda kepada kamu
(sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanya dari Allah” (QS. 11 : 29) (Imam Al
Ghazali).
Murobbi beda dengan penceramah (ustadz). Jika murobbi berperan sebagai pembina
(orang tua, sahabat, guru, dan pemimpin) bagi mad’u, penceramah lebih berperan
sebagai guru (ustadz) saja. Hubungan murobbi dengan mad’u sangat dekat dan
berlangsung lama. Sebaliknya hubungan penceramah dengan mad’u jauh, bahkan
mungkin tidak saling mengenal, dan sifatnya sementara. Karena itu, penceramah
boleh mendapat honor ceramah. Sebaliknya, murobbi tidak boleh! Mengapa? Jika
murobbi menerima bayaran (honor) dari mad’u dapat dipastikan sikapnya akan sulit
obyektif dan sulit bersikap asertif kepada mad’u. Jika mad’u berbuat salah, ia akan
sulit bersikap tegas karena kuatir mad’u tersinggung dan “mogok” membayar.
Sebaliknya, mad’u juga akan meremehkan murobbi karena merasa membayarnya.
Jika ditegur murobbi, mungkin ia berkata (dalam hati), “urusan apa Anda menegur
saya. Bukankah kamu saya yang bayar?”.
Jika murobbi dibayar, hubungan murobbi sebagai qiyadah (pemimpin dakwah)
dan mad’u sebagai jundi (tentara dakwah) juga akan sulit terealisir. Karena hubungan
mereka bukan berdasarkan kesadaran dan keikhlasan untuk mengikat diri dalam amal
jamai’ (aktivitas bersama), tapi berdasarkan pamrih (membayar dan dibayar).
8. Berikan keteladanan dengan kesederhanaan
“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar
dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada
mereka: “Inilah harta bendamu yag kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka
rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu” (QS. 9 : 35).
Keteladanan adalah cara ampuh mempengaruhi orang lain. Karena itu, jadikan
keteladanan sebagai senjata utama mempengaruhi mad’u. Dari sekian banyak
keteladanan yang perlu Anda lakukan, maka sikap sederhana merupakan pilar
utamanya. Kenapa? Sebab sikap sederhana sangat efektif untuk membuat orang
menaruh rasa hormat kepada pelakunya. Sebaliknya, bermewah-mewahan membuat
orang iri dan benci kepada pelakunya. Orang yang suka bermewahan identik dengan
orang yang egois dan tidak solider terhadap penderitaan orang lain.
Jika Anda sebagai murobbi hidup bermewahan, sulit bagi mad’u percaya bahwa
Anda serius memperjuangkan nasib umat. Namun jika Anda bersahaja, mad’u akan
percaya bahwa Anda tidak memperjuangkan diri sendiri. Mereka akan hormat dan
segan dengan Anda. Apalagi jika mereka tahu, Anda sebenarnya dapat hidup mewah,
kalau mau. Kesederhanaan merupakan daya magnet yang sangat kuat mempengaruhi
orang lain. Inilah yang dilakukan Rasulullah saw ketika mempengaruhi orang lain,
sehingga orang berbondong-bondong masuk ke dalam Islam.
9. Hati-hati dalam berpendapat
“Ucapkanlah perkataan kalian, tetapi jangan sampai syetan memperdaya kalian”
(HR. Abu Daud).
Hati-hati dalam berpendapat, sebab suara Anda sangat diperhatikan mad’u. Hal ini
terutama jika mad’u sudah tsiqoh (percaya) dengan Anda. Sebelum berpendapat,
pikirkan dahulu dengan matang apa yang akan Anda utarakan. Pikirkan juga dampak
pendapat Anda terhadap mad’u. Jangan ceplas ceplos. Ngomong dulu baru mikir. Hal
ini berbahaya, jika pendapat Anda salah. Pendapat yang salah, bukan hanya
mengurangi kredibilitas Anda sebagai murobbi, tapi juga dapat menjerumuskan
mad’u pada kesalahan. Sebagai contoh, mad’u Anda bertanya kepada Anda tentang
bagaimana sikap kita terhadap orang kafir. Lalu Anda dengan tegas mengatakan
bahwa mereka harus dimusuhi. Mad’u akan mengambil pendapat Anda sebagai
pegangan baginya dalam pergaulan. Setiap bertemu orang kafir ia akan
memusuhinya. Padahal tidak semua orang kafir perlu dimusuhi. Ada kriteria dan
batasannya. Namun karena Anda tidak merinci pendapat Anda ketika mad’u
menanyakannya, mad’u menerapkannya untuk segala situasi. Inilah contoh, jika
murobbi kurang hati-hati berpendapat. Karena itu, bijaksanalah dalam berpendapat.
Anda perlu memahami kapan saatnya berpendapat yang memerlukan rincian, kapan
yang tidak, kapan juga mengatakan tidak tahu, dan kapan mengatakan tahu dengan
tegas.
Dalam kasus lain, jika Anda ragu-ragu dengan pendapat Anda sendiri, sampaikan
hal itu kepada mad’u sehingga ia tahu bahwa pendapat Anda itu belum final. Atau
katakan padanya dengan pendapat yang global. Tidak terlalu spesifik. Misalnya,
mad’u bertanya tentang siapa sebaiknya yang menjadi pembicara dalam seminar yang
diadakan oleh halaqah. Anda tidak tahu atau ragu menunjuk siapa nama yang cocok
untuk seminar tersebut, maka katakan padanya bahwa pembicaranya bisa siapa saja
yang penting cocok dengan tema seminar tersebut. Jawaban yang global ini untuk
menjaga agar Anda tidak disalahkan oleh mad’u, jika kelak pendapat Anda ternyata
salah atau kurang tepat.
10. Manfaatkan keterampilan khusus Anda
“..dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat,
untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. 6 : 165)
Anda bisa menyanyi? Anda bisa berpantun ria? Anda bisa melukis, melawak,
bermain sulap, menulis atau melakukan hal-hal yang unik? Jika Anda memiliki
keterampilan khusus (yang tidak bertentangan dengan syar’i), gunakan itu untuk
menarik perhatian mad’u. Misalnya, jika suara Anda merdu, mengapa tidak menyanyi
nasyid atau bersholawat di tengah-tengah penyampaian materi Anda? Hal itu bukan
saja menjadi selingan yang menarik, tapi juga dapat menggugah kesadaran mad’u
lebih baik lagi. Mad’u akan respek dengan Anda karena Anda memiliki keterampilan
khusus yang mungkin tidak dimilikinya. Ia juga akan mendapatkan wawasan dan
pengalaman baru dari keterampilan Anda. Karena itu, carilah dan manfaatkanlah
kelebihan khusus Anda untuk menambah kredibilitas dan menarik simpati mad’u.
Sebenarnya, setiap orang memiliki kelebihan khusus. Sayangnya kelebihan
tersebut sering tidak dimanfaatkan oleh orang itu sendiri. Mungkin karena ia tidak
tahu apa kelebihannya, mungkin tahu tapi bingung memanfaatkannya, atau mungkin
malu memperlihatkannya kepada orang lain.
11. Jaga bau badan Anda
“Rasulullah saw menyukai wewangian dan membenci bau yang tidak sedap” (Imam
Al Ghazali).
Pernah tidak Anda berdekatan dengan orang yang bau badannya nggak enak?
Bagaimana rasanya? Anda tentu merasa terganggu bukan? Bahkan boleh jadi Anda
jadi sulit konsentrasi. Nah….kalau yang bau badan itu adalah Anda sebagai murobbi,
bagaimana dampaknya bagi mad’u? Di dalam halaqah, bau badan seseorang lebih
cepat tercium karena jaraknya berdekatan. Mad’u akan sulit konsentrasi jika bau
badan Anda tidak enak (apalagi menyengat). Ia juga akan menilai Anda sebagai orang
yang kurang peduli terhadap kebersihan. Bahkan lebih jauh ia bisa menilai Anda
jarang mandi!
Sayangnya, seringkali orang yang bau badannya menganggu itu tidak
menyadarinya, sehingga ia cuek saja. Padahal bau badan, yang kelihatannya sepele
itu, dapat menjadi persoalan besar. Pernah ada iklan di teve, tentang seorang atlit
yang tidak jadi diwawancarai wartawan karena bau badannya mengganggu. Nah
jelaskan? Bau badan bisa menjadi persoalan besar. Karena itu, instrospeksi bau badan
Anda. Hilangkan bau badan Anda dengan mandi dan memakai deodorant atau
penghilang bau badan. Jika setelah memakai deodorant, bau badan Anda tetap tidak
enak, konsultasikan ke dokter. Mungkin ada gangguan kesehatan dalam tubuh Anda.
12. Hati-hati dengan bau mulut Anda
”Rasulullah saw tidak makan bawang merah, bawang putih, dan jenis makanan yang
berbau tidak sedap” (Imam Al Ghazali).
Selain bau badan, mulut juga perlu dijaga agar tidak mengeluarkan bau yang tidak
sedap. Mulut yang bau akan membuat mad’u enggan berdekatan dengan Anda. Bau
mulut juga menujukkan ketidakpedulian terhadap kesehatan dan kebersihan. Sama
seperti bau badan, seringkali orang yang bau mulutnya tidak sedap kurang
menyadarinya.Jagalah bau mulut Anda agar terhindar dari bau yang tidak sedap dengan
menggosok gigi, memakai obat pengharum mulut dan memperhatikan apa yang Anda
makan. Anda perlu menghindari makanan yang dapat membuat mulut berbau tidak
sedap sebelum bertemu mad’u, terutama sebelum mengisi halaqah. Misalnya,
menghindari makan pete, jengkol, bawang putih, makanan yang berbau amis, dan
lain-lain. Nabi Muhammad saw juga memperhatikan bau mulut. Misalnya, dalam
sebuah Hadits, Nabi melarang orang yang habis makan bawang putih pergi ke masjid
untuk sholat jama’ah sebelum baunya hilang.
13. Jangan banyak mengeluh di depan peserta (selalu terlihat optimis)
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia
ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah…” (QS. 70 : 19-20).
Jika Anda terlihat sering mengeluh di depan mad’u, maka mereka akan pergi dari
Anda. Orang tidak suka dengan mereka yang suka mengeluh. Baik mengeluh tentang
keadaan dirinya, orang lain, atau situasi sekitarnya. Misalnya, mengeluhkan tentang
keadaan dirinya yang banyak kekurangan, mengeluhkan tentang orang lain yang
menyakiti dirinya, mengeluhkan kondisi sekarang yang sulit mencari uang, dan lainlain.
Hal ini wajar, sebab orang yang suka mengeluh menunjukkan orang tersebut
frustasi, gagal dan pesimis terhadap masa depan. Ingat! Anda adalah murobbi, yang
ingin merubah orang lain ke masa depan yang lebih baik. Sebelum Anda merubah
orang lain ke arah yang lebih baik, Anda sendiri harus optimis bahwa masa depan
Anda lebih baik. Optimis juga bahwa apa yang Anda bawa (dakwah) juga akan
sukses. Rasullullah saw berhasil dalam dakwah karena ia orang yang optimis. Ia juga
berhasil menularkan jiwa optimisnya kepada para sahabatnya, sehingga mereka
optimis juga. Sejarah akhirnya membuktikan barisan orang optimis itu berhasil
mengalahkan berbagai rintangan untuk menuju cita-citanya, yakni kejayaan Islam.
Jika pun Anda ingin mengeluh, mengeluhlah kepada orang-orang tertentu saja
yang dapat dipercaya (misalnya suami/isteri, sahabat, orang tua, murobbi). Jangan
banyak mengeluh kepada mad’u (kecuali sesekali). Anda harus lebih sering terlihat
optimis. Sebab Anda adalah pemimpin bagi mereka. Pemimpin pantang banyak
mengeluh di depan orang yang dipimpinnya!
14. Penuhilah janji Anda
“..sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungan jawabnya” (QS. 17 : 34).
Penuhilah janji Anda, jika Anda berjanji. Jika Anda melanggar janji berarti Anda
melakukan “penarikan”. Maksudnya, Anda membuat mad’u kecewa dan tidak simpati
kepada Anda. Melanggar janji juga merupakan tanda orang yang kurang dewasa dan
munafik. Karena itu, jika Anda ragu untuk memenuhi janji, maka janganlah Anda
berjanji. Apalagi terlalu sering “mengobral” janji hanya karena ingin memberi
harapan kepada mad’u.Mungkin, Anda berpikir pelanggaran janji Anda akan dimaklumi mad’u, karena
Anda banyak membantu mereka. Namun jika Anda sering melanggar janji, mad’u
lama kelamaan juga akan kecewa dan tidak simpati lagi kepada Anda. Dampak
selanjutnya, jika Anda berjanji lagi, dan Anda betul-betul akan memenuhinya, mad’u
tidak akan percaya lagi, karena Anda dianggapnya pembohong (orang yang suka
melanggar janji).
15. Jangan menjelek-jelekkan mad’u di depan mad’u lain
“Tahuah kalian apa itu ghibah?’ Mereka menjawab, Allah dan rasul-Nya yang lebih
mengetahui.” Nabi saw bersabda: “Kamu menyebut saudaramu dengan hal yang
tidak disukainya.” Ditanyakan, “Bagaimana jika apa yang aku katakana itu ada
pada diri saudaraku itu?” Nabi saw menjawab: “Jika apa yang kau katakan itu ada
pada dirinya maka sungguh kamu telah meggunjingnya, dan jika tidak ada pada
dirinya maka sungguh kamu telah menyebutkan hal yang dusta tentang dirinya” (HR.
Muslim).
Jika Anda merasa kecewa atau kesal dengan mad’u, maka jangan Anda jelek-jelekkan
ia di depan mad’u lain. Misalnya, ketika ia tidak hadir di halaqah, Anda mengaitkan
ketidakhadirannya dengan perilakukanya yang tidak Anda senangi. Anda
menyampaikan hal itu di depan halaqah. Hal ini, selain termasuk ghibah yang
dilarang Islam, juga dapat membuat mad’u yang dijelek-jelekkan menjadi antipati
terhadap Anda. Mad’u yang mendengar Anda menjelek-jelekkan mad’u lain juga
akan merasa murobbinya suka ghibah. Mereka akan berpikir bahwa jika mereka tidak
disenangi murobbi pasti akan diperlakukan sama dengan dijelek-jelekkan di depan
mad’u lain. Jika mad’u yang mendengar Anda mengghibah mad’u lain setuju dengan
pendapat Anda, mereka akan menjaga jarak dengan mad’u tersebut. Akhirnya,
hubungan antar mad’u menjadi renggang. Hubungan Anda dengan mad’u yang Anda
jelek-jelekkan juga menjadi kurang harmonis.
Karena itu, jika Anda kurang suka dengan perilaku mad’u, lebih baik Anda
dekati ia, lalu bicarakan ketidaksukaan Anda secara empat mata dengannya. Hal ini
lebih baik dampaknya dan lebih membuat mad’u respek dengan Anda.
Jika ada mad’u yang mencoba memancing Anda untuk menjelek-jelekan mad’u
lain, maka janganlah terpancing. Lebih baik Anda diam. Atau malah menegurnya
karena telah melakukan ghibah.
16. Jangan suka mengumbar kemarahan
“Siapakah yang kalian anggap perkasa?’ Kami menjawab: “Orang yang tidak bisa
dikalahkan oleh siapapun.” Nabi saw bersabda: “Bukan itu, tetapi orang yang dapat
mengendalikan dirinya pada saat marah” (HR. Muslim).

